Mengapa Kita Sulit Sekali Untuk Menulis
Mengapa kita sulit sekali untuk
menulis ?, Pertanyaan ini sering sekali muncul di banyak buku buku di Indonesia
, Jika Kita amati sekejap kenapa menulis sulit mungkin karena jarak tangan
dengan otak itu jauh.
Banyak dari pelajar maupun
mahasiswa yang juga kesulitan untuk menulis sebuah karangan atau sebuah ide ,
Dan jika kita amati lagi jarak mulut dg otak lebih dekat daripada jarak otak ke
tangan, jadi tidak heran bnyak orang yang lebih pintar berbicara daripada
menulis .
Oke kalau emang tidak percaya
coba kalian perhatikan sekeliling kalian ,banyak dari teman teman kalian yang
lebih suka duduk berjam jam menongkrong sambil ngobrol ngobrol di café atau di
warkop.
Kembali pada pertanyaan pertama
kenapa kita sulit untuk menulis karena
jarak otak kita yang jauh dari tangan, saya coba mensimbolisasikannya
Mulut
adalah sebuah simbolisasi aktifitas memerintah, mengomandoi, meminta atau memohon.
Pada umumnya kita bertutur untuk memerintah anak dengan mulut atau ucapan.
Aktifitas ini tidak cukup dengan lirikan mata atau jari telunjuk mungkin.
Sehingga, simbolisasi ini menyiratkan kemanfaatan untuk diri (self). Kita meminta uang atau memohon maaf dengan berucap. Yang
kita dapat, uang atau maaf adalah untuk diri.
Tangan
adalah sebuah simbolisasi aktifitas memberi, mendorong, menarik atau meraih.
Aktifitas ini semua kita lakukan dengan manfaat untuk orang lain (shared). Menulis lebih ditujukan untuk dibaca orang lain. Walau
dari segi kemanfaatan relatif. Namun menulis itu berbagi dan memberi sesuatu
dari kita untuk orang lain. Ada amalan, usaha, atau upaya agar untuk memberi
apa yang kita fahami dengan menulis.
Sehingga
analogi ini, mulut vs tangan kembali klop dengan judul diatas. Kita lebih suka
apa yang bermanfaat untuk diri (dengan mulut) dibanding memberi untuk orang
lain (dengan tangan). Kita lebih suka berbicara untuk berbagi beban diri
daripada menulis untuk berbagi ilmu yang kita punyai.
Memang
tidak semua orang berbakat menulis, Namun menulis juga bukan milik beberapa orang
saja, Menulis adalah talent learned(Bakat
yang dipelajari).
Jadi
daripada ngelantur terus ghibah banyak orang mending kita tulis ilmu kita
mungkin aja bias bermanfaat bagi banyak orang.
"Sebagai
pengarang, saya lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru
yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit, bahkan detik"
(“ Pramoedya A.T “)

0 komentar:
Posting Komentar