Kamis, 27 September 2018

Mengapa Kita Sulit Sekali Untuk Menulis

Mengapa Kita Sulit Sekali Untuk Menulis



Mengapa kita sulit sekali untuk menulis ?, Pertanyaan ini sering sekali muncul di banyak buku buku di Indonesia , Jika Kita amati sekejap kenapa menulis sulit mungkin karena jarak tangan dengan otak itu jauh.
Banyak dari pelajar maupun mahasiswa yang juga kesulitan untuk menulis sebuah karangan atau sebuah ide , Dan jika kita amati lagi jarak mulut dg otak lebih dekat daripada jarak otak ke tangan, jadi tidak heran bnyak orang yang lebih pintar berbicara daripada menulis .
Oke kalau emang tidak percaya coba kalian perhatikan sekeliling kalian ,banyak dari teman teman kalian yang lebih suka duduk berjam jam menongkrong sambil ngobrol ngobrol di café atau di warkop.
Kembali pada pertanyaan pertama kenapa kita sulit untuk menulis karena jarak otak kita yang jauh dari tangan, saya coba mensimbolisasikannya
Mulut adalah sebuah simbolisasi aktifitas memerintah, mengomandoi, meminta atau memohon. Pada umumnya kita bertutur untuk memerintah anak dengan mulut atau ucapan. Aktifitas ini tidak cukup dengan lirikan mata atau jari telunjuk mungkin. Sehingga, simbolisasi ini menyiratkan kemanfaatan untuk diri (self). Kita meminta uang atau memohon maaf dengan berucap. Yang kita dapat, uang atau maaf adalah untuk diri.
Tangan adalah sebuah simbolisasi aktifitas memberi, mendorong, menarik atau meraih. Aktifitas ini semua kita lakukan dengan manfaat untuk orang lain (shared). Menulis lebih ditujukan untuk dibaca orang lain. Walau dari segi kemanfaatan relatif. Namun menulis itu berbagi dan memberi sesuatu dari kita untuk orang lain. Ada amalan, usaha, atau upaya agar untuk memberi apa yang kita fahami dengan menulis.
Sehingga analogi ini, mulut vs tangan kembali klop dengan judul diatas. Kita lebih suka apa yang bermanfaat untuk diri (dengan mulut) dibanding memberi untuk orang lain (dengan tangan). Kita lebih suka berbicara untuk berbagi beban diri daripada menulis untuk berbagi ilmu yang kita punyai.
Memang tidak semua orang berbakat menulis, Namun menulis juga bukan milik beberapa orang saja, Menulis adalah talent learned(Bakat yang dipelajari).
Jadi daripada ngelantur terus ghibah banyak orang mending kita tulis ilmu kita mungkin aja bias bermanfaat bagi banyak orang.
"Sebagai pengarang, saya lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit, bahkan detik"

(“ Pramoedya A.T “)

Share:
Lokasi: Bangilan, Tuban Regency, East Java, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar