TETESAN AIR MATA SANTRI
Puisi tersebut pun diakhiri dengan rintihan air mata dan gemuruh tepuk tangan hadirin yg mendengarkan.
Hari - hari berlalu, sudah beberapa hari sejak kedatangan santri baru di pondok ini terasa begitu asri damai dan ramai dengan ocehan para santri.
Mungkin di benak para santri baru ada suatu keanehan yang mereka rasakan, Mungkin inikah rasanya mondok, jauh dari orang tua , jauh dari sanak saudara. Yang biasanya makan tinggal makan baju sudah tercucikan tapi sekarang semua sudah harus dikerjakan mereka sendiri. Mungkin banyak dari mereka yang belum kenal dengan teman sekamarnya atau sekelasnya , Tapi dengan berjalannya waktu mereka akan saling mengenal.
Sore ini di pondok ini sedang menggelar sebuah acara yg telah dinantikan banyak santri baru maupun wali santri baru. Dikarenakan ini adalah hari dimana mereka bisa saling bertatap muka antara anak dg orang tua dari sekian hari mereka terpisahkan oleh jarak dan waktu.
Di acara ini aku melihat tetesan air mata beberapa santri dan walinya . tapi yang makin membuatku merinding bahkan membuatku jadi baper(bahasa kidz zaman now) karena sepenggal puisi yg bicakan dengan ketulusan hati, kesucian jiwa dan raga oleh salah satu santri pondok ini, Mungkin juga banyak dari para hadirin yg baper dengan puisi tersebut. Memang puisi tersebut tak terlalu panjang ataupun banyak mengandung kalimat - kalimat tasybih (perumpamaan dalam bahasa arab), Tapi pembawaan puisi yg sangat menakjubkan,bagaimana tidak Anak sekecil itu bisa membawa para audien masuk ke-alam bawah sadar mereka dan ikut jatuh ke sebuah zona kosong tanpa ada apapun yang ada hanya sepenggal kalimat syahdu yg didengar mereka.

0 komentar:
Posting Komentar